Di Balik Alasan Eiger Tak Pecat Karyawan Meski Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
di-balik-alasan-eiger-tak-pecat-karyawan-meski-pandemi-covid-19

Kawan GNFI, judul di atas mungkin terdengar klise atau omong kosong, terlebih di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

Terdampak pandemi, memang tak sedikit perusahaan yang merampingkan ongkos operasional dan memecat atau merumahkan para karyawannya. Bahkan satu per satu perusahaan runtuh yang berdampak pada PHK tanpa pesangon.

Terkait PHK akibat pandemi Covid-19, Kementerian Ketenagakerjaan memiliki catatan yang menyebut jumlah pekerja yang dirumahkan dan terkena PHK hingga awal Mei 2020 telah mencapai 2,9 juta orang.

Jika merinci lebih jauh, ada 375.165 pekerja formal yang terkena PHK, 1,32 juta pekerja formal yang dirumahkan, dan 314.883 pekerja informal yang terdampak.

pekerja terdampak covid-19

Tidak gampang memang menjalankan usaha di masa pandemi Covid-19 ini, apapun itu bidang bisnisnya.

Omzet kebanyakan perusahaan pun turun bebas, terlebih bagi perusahaan ritel yang menyediakan kebutuhan tersier atau sekunder, seperti Eiger misalnya.

Omzet Terpangkas, Operasional Terimbas

Akan tetapi Soal PHK, tak masuk kamus bagi PT Eigerindo Multi Produk Industri (MPI). Sebuah perusahaan berbasis ritel yang menyediakan aneka perlengkapan tas dan ekosistemnya untuk kebutuhan harian dan petualangan. Produknya pun karib dengan telinga kita, seperti Eiger, Bodypack, Neosack, dan Exsport.

Jika kawan GNFI pernah mendengar produk Alpina asal Bandung, boleh jadi Eiger adalah suksesor–yang menggantikan Alpina–di saat ini.

Mungkin sebagian kita masih belum lupa bagaimana dulu di era 90-an, nama Alpina begitu melambung dan lekat dengan para petualang alam bebas.

Terkait dampak pandemi Covid-19, tak dimungkiri amblesnya omzet dirasakan juga oleh CEO Eigerindo MPI, Ronny Lukito.

Sejak Pemerintah mengumumkan kasus pertama virus Corona di Indonesia pada Maret 2020, omzet Eigerindo MPI pun terdampak dan langsung drop.

pencapaian eiger atas target di tengah pandemi covid-19

Pada Maret 2020, menurut catatan Ronny pencapaian perusahaan itu hanya 79 persen dari target bulanan.

Kemudian pada April saat diberlakukannya PSBB di beberapa tempat di Indonesia, pencapaian perusahaan merosot tajam hingga 37 persen. Lalu pada Mei, ada harapan baru karena penjualan ritel mencapai 60 persen dari target.

Dengan kondisi itu, Ronny mengaku terus berpikir keras. Ia meminta kepada seluruh kepala/supervisor perusahaan untuk melakukan efisiensi hal-hal yang memungkinkan.

”Perusahaan rugi tak apa, yang penting keluarga selamat, keluarga seluruh pekerja selamat. Setelah selamat, bantu perusahaan untuk bertahan,” cerita Ronny dalam Kompas.com.

Keluarkan Anggaran Miliaran untuk Rapid Tes

Meski harus menelan pil pahit, Ronny mengaku pandemi Covid-19 ini terjadi atas seizin Tuhan, dan ia juga yakin suatu saat nanti bisa dipetik manfaat dari kondisi sekarang.

Untuk terus menjaga kesehatan para pegawainya, Ronny menggelar rapid tes sebanyak dua kali. Untuk pengecekan kesehatan itu, ia harus merogoh dalam-dalam kantongnya yang mencapai Rp1,5 miliar.

Dari total 4.500 orang karyawannya, untuk satu orang yang menjalani rapid tes ia mengeluarkan anggaran Rp600 ribu.

”Bagian keuangan bilang, anggaran rapid tes Rp1,5 miliar. Saya kaget, mahal juga ya. Yang penting tim selamat dulu. Saya bilang, cairkan deposito saya,” ceritanya.

Walau begitu, ia ikhlas dan menyerahkan semuanya pada Tuhan. Hasilnya, seluruh karyawannya lolos tes, alias tak ada yang tertular virus Corona.

Meski Perusahaan Rugi, Gaji Karyawan Dibayar Penuh

Selain omzet tak mencapai target, harus mengeluarkan anggaran besar untuk rapid tes, cobaan tak henti sampai di sana. Ronny mengatakan bahwa perusahaan perlahan berada pada ambang kritis.

”…bleeding-nya sudah terlalu parah,” ungkapnya.

Akhirnya Ronny mengambil keputusan untuk memangkas gaji karyawan level manajer ke atas sebesar 15 persen. Namun, potongan itu merupakan hutang perusahaan, sehingga ketika kondisi membaik nanti akan dibayarkan penuh.

Ia juga mengamanatkan kepada manajemen untuk melakukan pembayaran tepat waktu bagi para mitra (reseller/pengrajin). Dalam catatannya, saat ini ada ribuan orang di industri kecil yang bermitra dengan Eiger.

”Jika ditambah dengan mitra, jumlah (pegawai) mencapai 10.000 orang,” tandasnya.

Tetap Gelar CSR

Meski perusahaan merugi, Ronny tetap menyalurkan dana CSR saat pandemi. Selain memberikan bantuan ribuan alat perlidungan diri (APD) produksi mereka, juga membagikan 5.000 kg beras kepada 1.000 kepala keluarga miskin dan masyarakat terdampak.

Lain itu, perusahaan juga melakukan penyemprotan disinfektan gratis di lingkungan desa sekitar pabrik mereka.

Bekerjasama dengan Vertical Rescue Indonesia untuk 33 kecamatan se-Bandung Raya, Eiger juga turut memberikan bantuan berupa 200 buah coverall, 500 buah masker, 30 buah rapid tes.

Hal lainnya, CSR Eiger juga memberikan bantuan lima kilogram beras per bulan untuk empat RW. Namun belakangan, ketika kondisi masih belum membaik, bantuan diganti menjadi bantuan sembako.

”Saya optimistis kondisi ini akan membaik. Eiger bisa bertahan sampai sekarang karena pertolongan Tuhan dan doa banyak orang,” harapnya.

Siapa Ronny Lukito?

Jika membaca uraian di atas, tentu tak lepas dari sosok Ronny Lukito, yang nyatanya orang di balik kesuksesan merek dagang Eiger, Exsport, Neosack, dan Bodypack.

Pengusaha kelahiran Bandung, 15 Januari 1962, itu nyatanya bukan berasal dari keluarga tajir melintir.

Ronny hanya melanjutkan usaha orang tuanya yang menjual dan memproduksi tas dengan merek dagang Butterfly. Dulu, merek dagangnya kerap ditolak beberapa swalayan top, seperti Ramayana dan Matahari.

Jalan menuju suksesnya dimulai ketika lulus STM tahun 1979, saat Ronny harus mengubur mimpinya kuliah di universitas dan mulai memikirkan bisnis tas yang digeluti keluarganya agar laris manis di pasaran.

Semuanya dilakukan demi ekonomi keluarga yang alakadarnya itu terus berdenyut, terlebih Ronny merupakan pria tunggal–anak ke-3– dari enam bersaudara.

Seperti diceritakan BisnisUKM.com, sebelum membentuk nama Eiger, Ronni sempat membuat merek dagang bernama Exxon. Namun ia kemudian disomasi perusahan AS, Exxon Mobil Corporation, karena menggunakan nama yang telah memiliki hak paten atas merek.

Tak ingin berkonflik, pada 1993 kemudian Ronny mengganti namanya produk buatannya menjadi Eiger, yang terinpirasi Gunung Eiger di Swiss.

Saat itu, produk Eiger ditujukan untuk peralatan kegiatan luar ruangan (outdoor), seperti mendaki gunung, kemah, panjat tebing, dan aktifitas lainnya.

Kini di bawah naungan B&B Inc. Ronny berhasil memayungi empat anak perusahaan besar, antara lain; PT Eksonindo Multi Product Industry (EMPI), PT Eigerindo MPI, PT EMPI Senajaya, dan CV Persada Abadi.

Sederet merek tas terkenal hingga apparel alam bebas menjadi bukti nyata keberhasilan Ronny dalam menguasai pasar domestik maupun mancanegara.

Sebut saja merek-merek tas yang beredar di mancanegara seperti; Nordwand, Morphosa, World Series, Extrem, Vertic, Domus Danica, serta Broklyn.

Bahkan merek dagang Osprey yang merupakan jenama outdoor top di AS, menitipkan pemasarannya di Indonesia pada ritel Eiger. Eigerindo MPI juga tercatat sebagai salah satu perusahaan ritel terbesar di negeri ini.

Selain menggunakan produk asli buatan Indonesia dan merekrut pengrajin dan mitra yang semuanya masyarakat lokal, dalam pemasarannya Eiger juga cukup jeli dengan melakukan kerjasama dengan para petualang-petualang Indonesia.

Sebut saja dua nama yang saat ini menjadi brand ambassador Eiger untuk kawasan domestik dan mancanegara, yakni Ramon Y. Tungka (Traveller Enthusiat) dan Jeffrey Polnaja (Motorcycle Adventure Enthusiast).

Nah kawan, kisah Ronny dalam membangun perusahaannya dan keberaniannya untuk tetap menjaga aset penting, yakni pegawainya saat pandemi, tentunya patut diteladani dan menjadi inspirasi kita agar terus tetap semangat dan optimistis.

Baca juga:

Leave your vote

956 points
Upvote Downvote

Related posts