Sejarah dan Geliat Tarekat Naqsyabandiah

  • Whatsapp
sejarah-dan-geliat-tarekat-naqsyabandiah

Tarekat Naqsyabandiah menekankan zikir dalam ajarannya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kalau sastra adalah seni bahasa, tari adalah seni gerak, nyanyi adalah seni suara, musik adalah seni nada, pahat adalah seni rupa, lukis adalah seni warna, sandiwara adalah seni peran, maka tasawuf adalah seni ibadah kepada Allah SWT.

Jika ibadah dimaksudkan menjalani hidup ini karena cinta kepada Allah, maka tasawuf adalah seni atau cara menjalani hidup dengan penuh cinta kepada Pencipta. Demikian dikatakan oleh Dr M Fudoli Zaini dalam pengantar bukunya Sepintas Sastra Sufi: Tokoh dan Pemikirannya.

Cinta dan suci adalah dua kata yang tak henti-hentinya muncul dalam disiplin tasawuf. Para sufi itulah orang-orang yang menyucikan diri dan jiwanya karena cinta kepada Zat Yang Mahaindah. Abad ke-14 M kawasan Asia Tengah menyaksikan munculnya aliran sufi bernama Naqsyabandiah oleh Muhammad bin Muhammad Bahauddin al-Uwaisi al-Bukhari Naqsyabandi (717-791 H/1318-1389 M).

Bagi Bahauddin Naqsyaband, tasawuf adalah inti agama, dan inti dari tasawuf itu sendiri adalah muraqabah (melupakan segala sesuatu yang selain Allah), musyahadah (menyaksikan keindahan dan keagungan Allah), dan muhasabah (introspeksi diri).

Bahauddin hendak mengantarkan para pengikutnya kepada tujuan akhir kehidupan ini, yaitu tempat suci. ”Naqsyabandiah adalah pemimpin kafilah yang membawa rombongannya melalui jalan-jalan tersembunyi menuju tempat suci,” kata Jami, salah seorang anggota Tarekat Naqsyabandiah masa kedua.

Dikatakan oleh Annimarie Schimmel dalam Dimensi Mistik dalam Islam, Bahauddin Naqsyaband adalah imam di zamannya yang mengetahui rahasia hati. Jalinan ruhani yang dirajut Bahauddin sampai kepada Abu Hasan Ali bin Ja’far al-Kharqani dan Abu Yazid al-Bistami. Kedua sufi itu konon meniti jalan mistik yang dirintis Abu Bakar as-Siddiq, sahabat dan murid utama Nabi Muhammad SAW.

Bahauddin Naqsyaband sendiri memperoleh pembaiatan resmi dan menjadi pewaris ruhani dari Abdul Khaliq Gujdawani. Ia menjadikan zikir sebagai inti ajarannya, yaitu zikir di dalam hati. Sehingga, kata Annimarie, kelompok tarekat ini sungguh-sungguh menghindari pertunjukan seni, terutama musik.

Ini jelas berbeda dengan tarekat-tarekat lain yang mempraktikkan zikir dengan iring-iringan musik. Cara ini berhasil menarik minat masyarakat luas. Memang, menurut Annimarie, dalam sejarah kemunculan Tarekat Naqsyabandi terdapat unsur perjuangan melawan tarekat-tarekat sufi yang hanya melandaskan pada emosi. Di samping melawan kebijakan penguasa yang mencoba melakukan sinkretisasi agama.

Bertasawuf bagi Bahauddin berarti bersikap tunduk dan patuh secara penuh kepada Nabi Muhammad SAW. Ini diwujudkan dengan menjalankan perintah-perintahnya, menjauhi larangannya, meneladani perbuatannya, dan menghayati spiritualitasnya sesuai dengan ajaran Islam Mazhab Ahlus Sunnah wa al-Jamaah. ”Tasawuf adalah syariat. Dan, barang siapa yang mengaku sebagai pengikut tasawuf, tetapi tidak menerapkan syariat, berarti dia telah tersesat,” kata Bahauddin Naqsyaband.

Dengan prinsip yang demikian itu, jelas Annimarie, Tarekat Naqsyabandiah memulai perjalanan ruhani mereka ketika tarekat-tarekat lain justru mengakhiri perjalanan itu. Dijelaskan pula oleh Aunul Abied Shah dalam artikelnya ”Bahauddin Shah Naqshabandi: Mahaguru Pembaru Tasawuf” (Republika, 9 Agustus 2009), banyak ulama yang mengakui Tarekat Naqsyabandi adalah saripati semua tarekat sufi.

Tarekat Naqsyabandiah menekankan 11 prinsip dasar utama dalam menapaki jalan ruhani menuju kesempurnaan keislaman seseorang. Delapan prinsip dirumuskan oleh Abdul Khaliq al-Gujdawani, dan tiga prinsip lainnya ditambahkan oleh Bahauddin Naqsyaband. Ada juga ajaran pokok dan rukun Tarekat Naqsyabandiah, yang masing-masing berjumlah enam.

Di Indonesia

Tarekat Naqsyabadiah telah menyebar ke seantero dunia, tak terkecuali di Indonesia. Pada abad ke-19 M jamaah haji dan pelajar dari nusantara di Makkah mengenal tarekat ini dari seorang sufi bernama Sulaiman Zuhdi. Dua dari mereka yang berjasa menyebarkan tarekat ini di nusantara adalah Sulaiman Hutapungkut dari Kota Nopan, Tapanuli Selatan, dan Muhammad Hadi Girikusumo dari Demak, Jawa Tengah.

Seiring dengan perjalanan sejarah, tarekat ini berkembang menjadi Tarekat Naqsyabandiah Khalidiah, Naqsyabandiah Muzhariyah, dan Qadiriah-Naqsyabandiah. Tarekat yang terakhir paling berpengaruh di Pulau Jawa. Pusatnya terletak di lima pesantren besar, yaitu Pesantren Pegentongan di Bogor, Pesantren Suryalaya di Tasikmalaya, Pesantren Mranggen di Semarang, Pesantren Rejosa di Jombang, dan Pesantren Tebuireng di Jombang.

Dari namanya sudah tampak bahwa Tarekat Qadiriah-Naqsyabandiah merupakan hasil simbiosis dari dua tarekat, yaitu Qadiriah dan Naqsyabandiah. Menurut Kharisuddin Aqib dalam artikel ”Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Di Indonesia”, penggabungan tersebut terjadi karena kedua tarekat memiliki inti ajaran yang saling melengakapi, terutama jenis zikir dan metodenya. Di samping itu keduanya sama-sama menekankan pentingnya syariat.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Leave your vote

1000 points
Upvote Downvote

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *