Sejarah Hari Ini (12 Juni 1892) – Peninggalan Prajurit Diponegoro, Masjid Madiopuro Mojokerto

  • Whatsapp
sejarah-hari-ini-(12-juni-1892)-–-peninggalan-prajurit-diponegoro,-masjid-madiopuro-mojokerto

Masjid Baiturrahmah di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur dipercaya berhubungan dengan sejarah perjuangan pengikut Pangeran Diponegoro yang melawan penjajah Belanda pada 1825-1830.

Dalam postingan medsos sejarawan Mojokerto, Ayuhanafiq, dijelaskan cikal bakal Masjid Baiturrahmah awalnya ialah sebuah langgar atau tempat salat.

”Menurut penuturan warga sekitar, sebelum masjid itu didirikan sudah ada langgar di tempat itu. Langgar tersebut dibuat oleh seorang pelarian dari Jawa Tengah karena terlibat perang Jawa atau Perang Diponegoro. Pelarian itu menjadikan langgar tersebut sebagai tempat persembunyian sambil mengajarkan ngaji pada warga sekitar,” jelas Ayuhanafiq dalam postingan Facebook-nya pada 2018.

Ilustrasi perang Jawa.
Ilustrasi perang Jawa pada 1825-1830. Sumber: Newmandala.org

Apa yang dikatakan Ayuhanafiq mengenai cikal bakal masjid tersebut juga dituturkan Kepala Desa Pesanggrahan, Mohamad Afif, pada 2015.

”Konon dulu ada batu besar yang digunakan pengelana dan salah satunya murid Pangeran Diponegoro untuk tempat istirahat dan salat,” terang Afif yang dikutip GNFI dari buku Kumpulan Sejarah Desa Se-Kab. Mojokerto karya Evi Sudyar.

Sebelum bernama Baiturrahmah, masjid ini dulu diberi nama Masjid Madijo Poero atau Madiopuro.

Hal itu dipaparkan lewat prasasti berbahan kayu jati yang terpasang di tembok masjid.

Dalam prasasti yang menggunakan tiga aksara (Jawa, Arab pegon, latin), dijelaskan bahwa masjid didirkan pada Ahad, 12 Juni 1892 Masehi atau 16 Dzulqo’dah 1392 Hijriah.

Pada bagian lain juga tampak prasasti nama pejabat kala itu yang meresmikan masjid, yakni Raden Adipati atau Bupati Mojokerto Kromodjojo Adinegoro.

Menara Masjid Madiopuro.
Menara Masjid Madiopuro. Sumber: Facebook.com/@informasimjkto

Model arsitektur Masjid Madiopuro pada saat itu tak jauh berbeda dengan model masjid Jawa yang lain, yaitu memiliki atap bersusun tiga.

”Model yang sama sepertinya juga dipakai pada Masjid Kauman Kota Mojokerto dan Masjid Gemekan Sooko. Ketiga masjid itu memang didirikan pada masa pemerintahan Bupati Kromodjojo Adinegoro,” terang Ayuhanafiq.

Meskipun masjidnya mengalami renovasi, beberapa bangunan lama masih tersisa hingga kini, di antaranya padasan berupa kolam setinggi 1 meter dan menara masjid yang dulunya digunakan muadzin untuk mengumandangkan adzan.

Baca Juga:


Referensi: Radarmojokerto.Jawapos.com | Pojokpitu.com | RadarFacebook.com/@SerpihanCatatanAyuhanafiq | Evi Sudyar, “Kumpulan Sejarah Desa Se-Kab. Mojokerto

Leave your vote

1000 points
Upvote Downvote

Related posts